Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling banyak mempunyai berbagai keragaman baik dari hayati, budaya, adat, bahasa, suku dan agama. Sehingga seluruh warga nergara dituntut untuk toleran terhadap kelompok lain yang ada di Indonesia baik budaya, adat, bahasa, suku, maupun agama. Sehingga jika seluruh warga tidak toleran terhadap kelompok agama lain maka akan menimbulkan konflik sosial bahkan pertumpahan darah. Mengingat peran sentral toleransi dalam mewujudkan kehidupan beragama yang rukun dan damai, maka toleransi antar umat beragama perlu ditingkatkan. Oleh karena itu pemahaman tentang toleransi sangat diperlukan, terutama untuk memahami dan memecahkan konflik antar umat beragama di Indonesia. Intoleransi agama sendiri terdiri dari kata toleransi dan agama, Intoleransi sendiri berasal dari kata “in” yang berarti tidak atau bukan, dan “toleransi” artinya sifat toleran. toleransi adalah tidak tenggang rasa atau tidak ada toleran terhadap praktik terhadap kepercayaan atau praktik agama lain. Sehingga kata toleran sendiri di definisikan sebagai bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2005).

Toleransi menurut beberapa Ahli dan Tokoh :

Bagus (1996)

Toleransi adalah sikap seseorang yang bersabar terhadap keyakinan filosofis dan moral orang lain yang dianggap berbeda, dapat disanggah, atau bahkan keliru. Sikap semacam ini tidak berarti setuju terhadap keyakinan-keyakinan tersebut. Juga tidak berarti acuh tak acuh terhadap kebenaran dan kebaikan, dan tidak harus didasarkan atas agnostisisme, atau skeptisisme, melainkan lebih pada sikap hormat terhadap pluriformitas dan martabat manusia yang berbeda.

Cambridge International Dictionary of English

Kata toleransi diartikan sebagai kemauan seseorang untuk menerima tingkah laku dan kepercayaan yang berbeda dari yang dimiliki, meskipun ia mungkin tidak menyetujui atau mengizinkannya (Procter, 2001).

Stetson dan Fachrudin (2006)

Toleransi sebenarnya terhadap agama lain ditunjukkan dengan tidak adanya ekspresi mempertentangkan atau tidak setuju terhadap kalin orang lain terhadap kebenaran agama atau keyakinannya (Stetson dalam Fachrudin, 2006).

Chaplin (2006)

Toleransi adalah satu sikap liberalis, atau tidak mau campur tangan dan tidak mengganggu tingkah laku dan keyakinan orang lain.

Fachrudin (2006)

Toleransi bukan juga diwujudkan dengan sikap yang tidak kritis dan reflektif terhadap setiap ide atau keyakinan yang mengarah kepada tindakan merusak umat manusia.

Hidayat (2006)

Alasan mendasar sikap ini adalah apabila seluruh komponen dalam masyarakat, yakni seluruh individu, termasuk pengikut agama minoritas, berpartisipasi secara menyeluruh secara menyeluruh dalam kehidupan sosial, maka mereka harus dianggap sebagai warga penuh dari sebuah masyarakat.

Sullivan, Pierson, dan Marcus, sebagaimana dikutip Mujani (2007)

Toleransi di definisikan sebagai a willingness to “put up with” those things one rejects or opposes, yakni “kesediaan untuk menghargai, menerima, atau menghormati segala sesuatu yang ditolak atau ditentang oleh seseorang”.

Erlewin (2010)

Toleransi adalah sebuah prinsip untuk berperilaku lebih baik di masyarakat sosial meskipun terdapat perdebat perbedaan kepercayaan, selama pihak lain tidak secara langsung menghalangi kesejahteraan diri sendiri atau orang lain.

Khisbiyah

Toleransi adalah kemampuan untuk menahankan hal-hal yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai, dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik. Toleransi mensyaratkan adanya penerimaan dan penghargaan terhadap pandangan, keyakinan, nilai, serta praktik orang/kelompok lain yang berbeda dengan kita.

Sedangkan agama dalam Kamus Bahasa Indonesia yaitu ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan yang Maha Kuasa, tata cara peribadatan, dan tata kaidah yang berkaitan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu. Intoleransi beragama adalah suatu kondisi dimana suatu kelompok (misalnya masyarakat, kelompok agama, atau kelompok non-agama) secara spesifik menolak untuk menoleransi praktik-praktik, para penganut, atau kepercayaan yang berlandaskan agama.

Intoleransi adalah ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk bertoleran muncul karena tidak bisa atau tidak mau menerima dan menghargai perbedaan. Toleransi beragama adalah sikap bersedia untuk berpartisipasi dalam masyarakat sosial yang lebih luas melalui proses asimilasi, meskipun berada dalam kelompok minoritas atau agama yang berbeda. Intoleransi bisa terjadi pada tataran hubungan interpersonal, seperti hubungan antara kakak dan adik, orangtua dan anak, suami dan istri, antar teman, atau antar kelompok, misalnya suku, agama, bangsa, dan ideologi. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, toleransi beragama adalah sikap bersedia menerima keanekaragaman dan kebebasan beragama yang dianut dan kepercayaan yang diyakini oleh pihak atau golongan lain. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan dan eksistensi suatu golongan, agama atau kepercayaan, diakui atau dihormati oleh pihak lain. Pengakuan tersebut tidak terbatas pada persamaan derajat, baik dalam tatanan kenegaraan, tatanan kemasyarakatan maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga perbedaan – perbedaan dalam cara penghayatan dan peribadatannya yang sesuai dengan alasan kemanusiaan yang adil dan beradab (Tim Penyusun Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1996). Reese (1999) menyatakan bahwa praktek toleransi agama tumbuh setelah melalui fase-fase penyesuaian dan pertemuan antar agama. Adaptasi dan penyesuaian antar agama menempuh tiga tahap, yakni territorialism, latitudinarianism, dan pax dissidentium.

Territorialism

Masa di mana setiap daerah hanya mengakui dan memaksakan satu agama yang sah, sementara penganut agama lain diminta untuk berpindah ke tempat lain;

Latitudinarianism atau Comprehension

Merupakan suatu periode dimana satu agama diakui sebagai agama yang berkuasa walaupun jumlah penganutnya sedikit.

Pax Dissidentium

Suatu babak di mana kebebasan suatu agama telah dijamin sepenuhnya. Toleransi sebagai suatu sikap, menurut Walzer dalam Sutanto (2007), merujuk pada berbagai matra di dalam suatu garis kontinum, yaitu :

Matra Pertama, yang mencerminkan toleransi keagamaan di Eropa sejak abad ke 16 dan 17 adalah sekadar penerimaan pasif perbedaan demi perdamaian setelah orang merasa capek saling membantai. Jelas ini tidak cukup dan karenanya dapat dicandra gerak dinamis.

Matra kedua, ketidakpedulian yang lunak pada perbedaan. Di situ sang liyan diakui ada, tetapi kehadirannya tidak bermakna apa-apa.

Matra ketiga, melangkah lebih jauh ada pengakuan secara prinsip bahwa sang liyan punya hak-hak sendiri sekalipun mungkin ekspresinya tidak disetujui.

Matra keempat bukan saja memperlihatkan pengakuan, tetapi juga keterbukaan pada yang lain, atau setidaknya keingintahuan untuk lebih dapat memahami sang liyan.

Matra kelima, tidak sekadar mengakui dan terbuka, tetapi juga mau mendukung atau bahkan merawat dan merayakan perbedaan, entah karena alasan estetika-religius (keragaman sebagai ciptaan Tuhan), entah karena keyakinan ideologis (keragaman merupakan tanah subur bagi perkembangan umat manusia).

Menurut Anwar Harjono (1995), ada dua hal yang sama besar bahayanya, yaitu:

Pertama, apabila kita hanya terpaku kepada tugas-tugas dalam lingkungan agama kita sendiri tanpa menghiraukan hak-hak golongan agama lain.

Kedua, apabila kita terlalu bersemangat menjalankan toleransi sehingga kita menganggap semua agama sama saja, sama benarnya, atau sama salahnya.

38 Bahaya pertama akan mendorong seseorang kepada penyiaran agama tanpa mengindahkan peraturan yang ada, sehingga siapa saja dijadikan sebagai sasaran penyiaran agama. Semangat demikian kelihatannya sangat luhur karena didorong oleh motif suci melaksanakan perintah agama yang ganjarannya adalah surga. Akan tetapi, jika semua orang begitu keyakinan dan perilakunya, akibatnya akan terjadi “perang agama” secara permanen, baik terbuka maupun terselubung. Bahaya kedua, akan mendorong seseorang melakukan pendangkalan terhadap ajaran agama. Dicari-carilah persamaan-persamaan di antara agama-agama yang ada. Berdasarkan persamaan – persamaan  itu, mereka merumuskan apa yang disebut sebagai “hakikat” atau “intisari” agama jika tidak diwaspadai bahkan berpotensi pula untuk menegasikan agama yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, dalam menjalankan toleransi setiap umat beragama hendaknya berpedoman kepada prinsip-prinsip yang telah digariskan oleh ajaran agamanya masing-masing, supaya tidak terjebak atau terjerumus kepada bahaya diatas. Ali (2003) menjelaskan, toleran merupakan satu sikap keberagamaan yang terletak antara dua titik ekstrim sikap keberagamaan, yaitu eksklusif dan pluralis. Guna lebih jelasnya perhatikan skema berikut.

                                                              Eksklusif                   Toleran                          Pluralis

<——————————————————>

Pada titik paling kiri, ada mereka yang eksklusif menutup diri dari (seluruh atau sebagian) kebenaran pada yang lain. Ada yang bersikap toleran: membiarkan yang lain, namun masih secara pasif, tanpa kehendak memahami, dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama. Bersikap toleran sangat dekat dengan sikap selanjutnya pada titik paling kanan, yaitu sikap pluralis. Yakni sikap meyakini kebenaran diri sendiri, sambil berusaha memahami, menghargai, dan menerima kemungkinan kebenaran yang lain, serta lebih jauh lagi, siap bekerja sama secara aktif di tengah perbedaan itu. Dari uraian di atas diketahui bahwa kendati toleransi merupakan sikap keberagamaan yang positif, namun masih bersifat pasif sebab hanya sekadar membiarkan yang lain (the other), tanpa kehendak memahami, dan tanpa keterlibatan aktif untuk bekerjasama. Namun demikian, konsep tersebut tidak mengurangi nilai penting sikap toleran sebagai satu sikap yang sangat penting untuk dimiliki setiap warga negara demi terwujudnya kerukunan umat beragama. Sebaliknya, tidak toleran (intolerant) merupakan satu sikap yang harus dijauhi karena dapat menimbulkan ketegangan, gesekan, bahkan konflik antar umat beragama. (Ali, 2003). Berdasarkan elaborasi di atas, secara konseptual dan metodologis, maka pertama, toleransi tidak merujuk kepada perbedaan, tetapi penerimaan terhadap perbedaan. Sebab itu berapapun besar dan jauhnya perbedaan tidak menggambarkan kondisi toleransi beragama. Kedua, toleransi beragama sebenarnya merujuk kepada suatu situasi relasional yang relatif damai di antara berbagai umat beragama yang berlainan. Terlepas dari kegaduhan dan ketegangan yang ditimbulkan oleh aktivitas-aktivitas berbagai kelompok partisan di ranah publik, sepanjang mereka tidak benar-benar menolak apalagi menghilangkan eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain, skala toleransi beragama sesungguhnya tidak mengalami perubahan yang berarti. Ini seharusnya merujuk kepada salah satu indikator demokrasi yang memungkinkan siapapun bebas mengekspresikan diri dalam ruang publik, termasuk penolakannya kepada kelompok beragama lain. Hal tersebut berarti, konsep tentang toleransi mengandaikan pondasi nilai bersama sehingga idealitas bahwa agama-agama dapat hidup berdampingan secara koeksistensi harus diwujudkan.(Budiyanto, 2009)