Banyak pengaduan masyarakat naik 900 persen terkait konten kebencian dan informasi bohong / hoax di situs internet, akun media social, aplikasi yang ada pada smartphone dan juga perangkat lunak. Kenaikan pengaduan oleh masyarakat yang luar biasa tinggi ini membuktikan bahwa penyebar-luasan ujaran kebencian dan informasi bohong / hoax di berbagai platform media sosial sudah tidak bisa lagi di toleransi. Menurut Jenkins Ford dan Green (2013) dewasa ini perkembangan teknologi informasi, aplikasi daring, dan internet telah meningkatkan kecepatan dan lingkup berbagi pesan media yang kemudian memunculkan praktik-praktik yang terkadang melanggar etika dan kontra-produktif bagi kemajuan. Ilmu pengetahuan menurut beberapa sumber, yaitu :

Ensiklopedia Indonesia

                Suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing – masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, disusun sedemikian rupa menurut asas – asas tertentu, hingga menjadi kesatuan. Suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang didapatkan sebagai hasil pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode tertentu (induksi dan deduksi).

Burhanuddin Salam (2009)

                Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek / lapangan) yang merupakan kesatuan sistematis dan memberikan penjelasan sistematis yang dapat dipertanggung jawabkan dengan menunjukan sebab – sebab hal atau kejadian itu. Ada beberapa pengetahuan yang dimiliki manusia, yaitu :

  1. Pengetahuan biasa atau common sense.
  2. Pengetahuan ilmu secara singkat disebut sebagai “ilmu” sebagai terjemahan dari kata “science”.
  3. Pengetahuan Filsafat atau disingkat “filsafat”
  4. Pengetahuan religi atau pengetahuan agama, yaitu pengetahuan atau kebenaran yang bersumber dari agama.

Dalam berpikir ilmiah harus bisa memegang prinsip – prinsip dalam berpikir ilmiah, yaitu:

  • Objektif : Cara melihat suatu masalah apa adanya, terlepas dari faktor – faktor subjektif (Perasaan, keinginan, emosi, sistem keyakinan, otoritas).
  • Rasional : Menggunakan akal sehat yang dapat dipahami serta diterima oleh orang la. Mencoba melepaskan unsur – unsur subjektif.
  • Logis : Berpikir dengan menggunakan logika/runtut/konsisten/implikatif. Tidak mengandung unsur pemikiran yang kontradiktif. Dikarenakan setiap pemikiran logis selalu rasional, begitu juga sebaliknya.
  • Metodologis : Menggunakan cara dan metode keilmuan yang khas dalam setiap berpikir dan bertindak (missal :induktif, deduktif, sintesis, hermeneutik, intuitif).
  • Sistematis : Cara berpikir dan bertindak menggunkan tahap skala prioritas yang jelas dan saling terkait satu sama lain, serta memiliki target dan arah tujuan yang jelas.

Beberapa konsep Pancasila dengan dasar nilai pengembangan ilmu, yaitu :

  1. Tidak bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila
  2. Menyertakan nilai Pancasila sebagai faktor internal pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.
  3. Berperan sebagai rambu normatif bagi pengembang ilmu pengetahuan di Indonesia.
  4. Berakar dari budaya dan ideologi bangsa Indonesia sendiri.

Pada dasarnya Pancasila sangatlah dibutuhkan dan diperlukan sebagai dasar nilai pengembangan ilmu dikarenakan yang pertama adanya kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan oleh Ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dalih percepatan pembangunan daerah tertinggal atau upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sehingga memerlukan perhatian serius seperti penggalian tambang batubara, minyak, biji besi, emas dan lainnya di berbagai daerah di Indonesia dengan menggunakan teknologi canggih yang dapat mempercepat kerusakan lingkungan. Sehingga apabila hal ini dibiarkan terus menerus, maka generasi berikutnya yang akan menerima resiko kehidupan yang rawan bencana lantaran kerusakan lingkungan dapat memicu terjadinya bencana, seperti longsor, banjir, kebakaran hutan dan masih banyak lainnya. Yang kedua merupakan penjabaran sila ke 2 (dua) Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi sarana untuk mengontrol dan mengendalikan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nantinya akan berpengaruh pada cara berpikir dan bertindak masyarakat yang cenderung pragmatis. Sehingga dapat diartikan penggunaan benda – benda teknologi dalam kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini akan dapat menggantikan peran nilai – nilai luhur yang diyakini dapat menciptakan kepribadian manusia Indonesia yang memiliki sifat sosial, humanis, dan religius. Karena itu sifat tersebut sudah mulai tergerus dan sudah mulai digantikan dengan sifat individualistis, dehumanis, pragmatis, bahkan cenderung sekuler. Yang ketiga adalah menyangkut nilai – nilai kearifan local yang menjadi symbol kehidupan di berbagai daerah dan mulai digantikan dengan gaya hidup global seperti budaya gotong royong digantikan dengan individualis yang tidak patuh membayar pajak dan hanya menjadi free rider di negara ini. Pancasila sendiri mempunyai tantangan sebagai dasar pengembangan ilmu, yaitu :

Kapitalisme : Sebagian menguasai perekonomian dunia termasuk Indonesia yang mengakibatkan ruang bagi penerapan nilai – nilai Pancasila sebagai dasar pengembangan ilmu menjadi terbatas.

Globalisasi : yang menyebabkan lemahnya daya saing bangsa Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga Indonesia lebih berkedudukan sebagai konsumen dibandingkan produsen dengan negara lain.

Konsumerisme : menyebabkan negara Indonesia menjadi pasar bagi produk teknologi negara lain yang lebih maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pragmatisme : berorientasi pada tiga ciri yaitu keberhasilan, kepuasan dan hasil yang mewarnai perilaku kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia.